Festival Tumpek Wariga 2024: Menyatukan Tiga Pilar Kehidupan Menuju Era Ekonomi Berkelanjutan

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – SMESCO Indonesia dan Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) menggelar Festival Tumpek Wariga 2024, sebuah perayaan rasa terima kasih kepada alam, khususnya pada keberlimpahan yang diberikan alam untuk kehidupan.

Tumpek Wariga, diungkapkan Direktur Utama SMESCO Indonesia, Leonard Theosabrata berakar dalam tradisi Hindu, menjadi perwujudan ajaran Tri Hita Karana yang menekankan saling keterkaitan hubungan manusia dan pentingnya upaya bersama dalam pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Tema “Forestry in Harmony” menegaskan komitmen untuk memupuk keselarasan hubungan antara manusia dan alam.

Festival ini diselenggarakan bekerja sama dengan berbagai mitra, bertujuan untuk mengangkat prinsip rantai nilai kolaboratif guna meningkatkan aksi bersama antara pelaku usaha dan para aktor pendukungnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Festival Tumpek Wariga 2024 menjadi platform unik untuk menggabungkan tiga pilar penting guna mewujudkan keharmonisan antara manusia dan alam.

“Pilar-pilar ini mencakup signifikansi spiritual Tumpek Wariga, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung pelestarian, serta manusia sebagai makhluk ekonomi melalui praktik bisnis berkelanjutan,” ungkap Leonard dalam siaran tertulis pada Sabtu (3/2/2024).

Rangkaian kegiatan meliputi talkshow dan lokakarya pada hari pertama di SMESCO Hub Timur, dilanjutkan dengan eksplorasi hutan dan penelusuran komoditas pada hari kedua di Hutan Belajar Bali Barat.

Sedangkan di hari ketiga peserta diajak tur ke pusat produksi Conservana, sebuah perusahaan yang mengedepankan pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis komunitas.

Hutan Belajar Bali Barat yang sebagian dikelola oleh Conservana bersama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Giri Amertha itu diungkapkannya memiliki luas 37.182,13 hektar.

Hutan Belajar Bali Barat merupakan kawasan konservasi dengan keanekaragaman hayati terestrial maupun laut.

Secara umum, dengan dikelola melalui prinsip perhutanan sosial, komoditas hutan non-kayu olahan dapat menghasilkan 25.000 dollar per hektar.

Baca Juga  Kemasan Saset Jadi Salah Satu Penyampah Plastik Terbesar, Berdasarkan Data Waste Audit Sungai Watch

“Kolaborasi dan gotong-royong dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan tidak hanya mengembalikan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan, namun juga memberikan alternatif ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” jelasnya.

Memperkenalkan Rantai Nilai Gotong Royong

Festival dimulai dengan pembukaan di hari pertama oleh Leonard Theosabrata, Direktur Utama SMESCO Indonesia, lalu diikuti oleh pidato dari Asisten Perekonomian Dan Pembangunan Sekda Provinsi Bali, Dr. I Wayan Serinah dan Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim Jawa, Bali, Nusa Tenggara KLHK, Haryo Pambudi.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *